Jumat, 01 Februari 2013

Akses Terbuka Universitas dan Pendidikan Tinggi untuk Masyarakat

Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup dalam IPM, Kota Banjar perlu membuka peluang untuk setiap warganya untuk mendapatkan akses terhadap dunia pendidikan tinggi.



Salah satu cara untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi seluruh masyarakat adalah dengan cara membuka sumber-sumber belajar tingkat universitas kepada seluruh mmasyarakat.
Sumber Belajar Teknik dari Massachusetts Institute of Technology 
 
School of Engineering
 

Salam, Arip Nurahman
Semoga Bermanfaat dan Tetap Semangat

Minggu, 06 Januari 2013

SEMANGAT JUANG BANGSA KOREA SEBAGAI PENDORONG KEMAJUAN KOREA SELATAN Part I

SEMANGAT JUANG BANGSA KOREA SEBAGAI PENDORONG KEMAJUAN 
KOREA SELATAN Bagian I



Sejak dulu bangsa Korea telah menunjukkan dirinya sebagai suatu bangsa yang tidak kenal menyerah dalam menghadapi berbagai bentuk tantangan terhadap keberadaannya. 

Tantangan itu berupa agresi dari berbagai bangsa besar di sekelilingnya maupun tantangan dalam bidang ekonomi, sosial-budaya, dan lain-lain. Semangat juang yang dimiliki bangsa Korea hingga saat ini masih dimiliki dan terus diwariskan ke generasi berikutnya. 

Semangat inilah yang pada masa modern ini menjadi kunci kemajuan Korea dalam menghadapi berbagai bentuk tantangan masa kini. Di masa yang akan datang semangat bangsa Korea akan menjadi salah satu bangsa besar di dunia. Umum Semenanjung Korea terbentang ke selatan dari bagian timur laut benua Asia. 

Semenanjuna Korea ini dibagi menjadi Republik Demokratik Korea di sebelah utara dan Republik Korea di sebelah selatan. Ke arah barat semenanjung terbentang laut kuning, yang berseberangan dengan cina. Jepang berada di seberang laut timur dan samudra pasifik berada di selatan. Korea memiliki banyak macam kawasan, dengan 70 % kawasan pegunungan, khususnya di wilayah pantai timur. Wilayah pantai barat dan selatan sangat curam dan terdapat lebih dari 3.000 pulau dan pelabuhan. 

Sungai terbesar di semenanjung adalah Sungai Amnokkang (Yalum 790 km) dan Sungai Tuman-gang (Tumen, 521 km) di utara dan Sungai Noktonggang (525 km) serta Sungai Hanhang (514 km) di selatan. Gunung tertinggi di semenanjung adalah Gunung Paekustan (2744 m), Gunung Hallasan (1950 m) di Pulau Chejudo dan Gunung Soraksan (1708 m) adalah dua gunung yang lebih terkenal di selatan. 

Korea memiliki empat musim dan bebarapa jenis cuaca yang berbeda. Musim semi dan musim gugur agak singkat, tetapi cuaca kering yang menyenangkan dan banyak sinar matahari. Terletak di jalur hujan Asia Timur, semenanjung mempunyai musim panas yang menyengat, lembab, dengan curah hujan terbesar selama musim hujan yang biasanya dimulai pada akhir Juni. Pada musim dingin cuaca dingin dan kering, kadang-kadang terjadi hujan salju, meskipun masa cuaca dingin biasanya berganti-ganti dengan cuaca yang lebih hangat. Semenanjung Korea sebagai tempat tinggal bagi bangsa Korea adalah suatu tempat yang memiliki keunikan dalam hal letak, yaitu sebagai penghubung antara benua Asia dan Kepulauan Jepang.

Hal ini menjadikan semenanjung Korea sebagai jembatan bagi arus migrasi penduduk dan kebudayaan antara Asia dan kepulauan Jepang. Selain itu dengan letaknya ini menjadikan Korea berada diantara berbagai kekuatan dominan di wilayah Asia Timur, seperti Cina dan Jepang yang sejak awal peradaban telah bangkit menjadi kekuatan besar dalam bidang militer maupun ekonomi.

Kondisi yang unik ini telah menjadikan wilayah Korea dan bangsa Korea sebagai sasaran dari berbadai invasi dan serangan bangsa lain. Sejak awal berdirinya berbagai kerajaan di Korea, yang lebih dikenal sebagai jaman Tiga Kerajaan, sejarah telah mencatat sejumlah serangan terhadap Korea.

Pada tahun 109 SM telah tercatat penyerbuan oleh Dinasti Han dari Cina diikuti dengan Dinasti Yen (342 SM). Pada abad ke-13 M bangsa Mongol yang menguasai kekaisaran Cina berhasil menguasai sebagian besar wilayah semenanjung Korea. Tak ketinggalan tetangga terdekat di selatan Korea. Mulai dari serangan pasukan Shogun Hideyoshi, yang berhasil diusir oleh Jenderal Shi-in dan serangan armada Jepang yang dengan gemilang dikalahkan oleh Laksamana Yi Sun-Sin di selat Korea.

Pada awal abad ke-20 Jepang juga menjajah Korea dan berusaha untuk melenyapkan integritas Korea sebagai suatu bangsa melalui penindasan kebudayaan. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa bangsa Korea tidak sekalipun menyerah.

Semangat juang bangsa Korea telah mendorong perlawanan yang gigih yang selalu berhasil mengusir setiap bentuk serangan ataupun penjajahan.

Semangat juang tinggi yang dimiliki bangsa Korea ini merupakan pengganti atas kondisi yang kurang menguntungkan khususnya dari segi jumlah kekuatan dan persenjataan, dengan mengatasi setiap tantangan, bangsa Korea berhasil mempertahankan eksistensinya.

Orang Korea berasal dari keluarga satu suku yang menggunakan satu bahasa. Mereka memiliki sifat-sofat fisik yang berbeda dengan penduduk Asia lainnya seperti Cina dan Jepang dan mereka memiliki ciri budaya yang kuat sebagai satu keluarga satu suku.

Orang-orang Korea modern diyakini keturunan beberapa suku bangsa Mongol yang datang ke Semenanjung Korea dan Asia Tengah tepatnya selama Zaman Neolitik (5000 – 1000 SM) dan Zaman Perunggu (1000 – 300 SM).

Pada awal era Kristiani, orang-orang Korea dulunya homogen, meskipun secara politik negara Korea tidak disatukan hingga abad ketujuh Masehi.

Di tahun 1997 populasi penduduk Republik Korea mencapai 45,9 juta. Kepadatan penduduknya termasuk yang terbesar di dunia dan Seoul, ibukota negara, berpenduduk lebih dari 11 juta jiwa. Kota-kota besar lainnya adalah Pusan, Taegu, Inch’on, Kwangju, Taejon dan Ulsan. Dalam tahun-tahun terakhir, arus urbanisasi telah meningkat, namun demikian pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk memperkecil peningkatan tersebut.

Kebebasan beragama diberikan sesuai Undang-undang Negara Korea dan orang-orang Korea telah menjadi penganut agama yang kuat. Sejumlah 51 % penduduknya memeluk kepercayaan agama dan jumlah tersebut terus bertambah. Agama yang mempunyai banyak pemeluk adalah Budha, Protestan, dan Katolik. Sedangkan bahasa Korea digunakan oleh lebih dari 65 juta orang yang tinggal di semenanjung dan pulau-pulau terpencil sekitarnya dan oleh 5,5 juta orang Korea yang tinggal di tempat lain di dunia.

Fakta bahwa semua orang Korea berbicara dan menulis dengan bahasa yang sama merupakan faktor yang sangat penting sebagai identitas bangsa.

To Be Continued

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah


Ucapan Terima Kasih:

Kak Ony Avrianto Jamhari, M.A.

Indonesian Lecturer at Woosong University
&
SolBridge International School of Business

Korea Selatan

Selasa, 01 Januari 2013

Akses Universitas dan Pendidikan Tinggi untuk Masyarakat

Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup dalam IPM, Kota Banjar perlu membuka peluang untuk setiap warganya untuk mendapatkan akses terhadap dunia pendidikan tinggi. 

Salah satu cara untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi seluruh masyarakat adalah dengan cara membuka sumber-sumber belajar tingkat universitas kepada seluruh mmasyarakat.

Sumber Belajar Sains dari Massachusetts Institute of Technology


Salam, Arip Nurahman

Semoga Bermanfaat dan Tetap Semangat


Sabtu, 18 Agustus 2012

Selamat Datang di Perpustakaan Universitas Harvard


WELCOME TO THE HARVARD LIBRARIES

This web site is an online gateway to the extraordinary library resources of Harvard University and serves as an important research tool for Harvard's current students, faculty, staff, and researchers who hold Harvard IDs and PINs. The site also provides practical information on each of the more than 80 libraries that form the Harvard system. Visitors and guests should consult the Library's Frequently Asked Questions before navigating the site.



Digital Collections at Harvard


Harvard provides open, online access to a growing number of its subject-specific collections, including Daguerreotypes at Harvard. View more collections.

List of Harvard libraries:

A to Z

By Faculty (School)

Science Libraries
List of Harvard archives & manuscript repositories: A to Z


Digital Collection Highlights
Map of library locations
Library hours
FAQ for Visitors
Library services for persons with disabilities
Events and exhibitions
University Library Programs

Arts and Sciences | Business School | College Library | Design School | Divinity School | School of Education | Kennedy School | Law School | Medical and Public Health | Radcliffe | University Library | Other |

Disusun Ulang Oleh:

Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University USA.

Terima Kasih, Semoga Bermanfaat!.

Minggu, 01 Juli 2012

Bagaimana Membumikan Teknologi Pendidikan?



Televisi Internet Kota Banjar
http://www.bitedu.co.cc/

E-Learning Kota Banjar: Televisi Internet Kota Banjar

(Televisi Internet Pendidikan Kota Banjar)

Televisi Internet Sekolah Bertaraf Intenasional SMAN 1 Banjar

"Mengabaikan aspek manusiawi dengan segala keindahan dan pesona budayanya dalam penerapan Sains dan Teknologi adalah ongkos yang maha besar"

~Prof. Dr. Ir.Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, Ph.D.~
(Mantan Presiden RI, Profesor Teknik Penerbangan dengan predikat summa cum laude., Genius Muslim Dunia abad 21)

"Pamadegan tepat

Awak sehat
Bathin wal afiat
Elmuna manfaat"
~Urang Sunda~


"Teknologi dapat digunakan, tetapi hanya akan betul bermanfaat setelah Ilmu Teknologi Pendidikan dan cara menggunakan teknologi di bidang pendidikan sudah dipahami oleh manajemen pendidikan kita, maupun guru" "Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diangkat sebagai solusi umum." ”Rahasia kunci sukses bangsa Indonesia agar bisa memimpin dunia: membagi dan mengajari bangsa kita dengan ilmu!” ~Onno W. Purbo.~ 

Teknologi pendidikan perlu terus menerus dikembangkan untuk menjawab persoalan - persoalan pendidikan. Pendekatan pembelajaran yang sebelumnya tidak mungkin jika dilakukan secara konservatif maka dengan teknologi pendidikan akan menjadi mungkin. Teknologi pendidikan dapat meningkatkan efisien dan efektivitas. "Saya mengajak untuk terus menerus mengembangkan teknologi pendidikan untuk menjawab persoalan ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas. Dengan teknologi pendidikan maka persoalan ketersediaan bisa dikurangi sebagian, demikian juga (persoalan) keterjangkauan," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pada Seminar dan Workshop Nasional Peran Teknologi Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Nasional di Depdiknas, Jakarta, Rabu (18/11/2009). 

Mendiknas menyebutkan, teknologi pendidikan memiliki tiga peran penting. Pertama, kata Mendiknas, teknologi pendidikan berperan sebagai pendukung proses pendidikan. Kedua, lanjut Mendiknas, teknologi pendidikan berperan sebagai penggerak. Dia mencontohkan, penggunaan teknologi informasi sebagai media atau bagian dari teknologi pembelajaran. "Dengan IT bisa menggerakkan bukan saja bab pelajaran yang diajarkan, taruhlah Matematika menggunakan IT, tapi sekaligus mendrive guru, murid, atau orangtuanya untuk belajar IT," katanya. Peran ketiga, kata Mendiknas, teknologi pendidikan dijadikan sebagai pengungkit. "Kita harapkan teknologi pendidikan bisa berperan sebagai pengungkit atau enabler. Segala macam yang tidak mungkin jadi mungkin," katanya. 

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal mengatakan, dengan teknologi pendidikan, peluang untuk mendapatkan akses yang lebih luas bagi semua anak bangsa dan pemangku pendidikan makin meningkat. Dia mengatakan, teknologi ini memerlukan budaya baru, sehingga belum tersedia bagi banyak pemakai. "Jadi diperlukan kesabaran terus menerus untuk mensosialisasikan, mendampingi, dan memudahkan mereka di dalam mengakses teknologi ini termasuk kemampuan kita untuk mengembangkan konten," katanya. Fasli menyampaikan, dari sisi kebijakan, pemerintah berkomitmen penuh untuk memanfaatkan, meninternalisasikan, dan membudayakan pemakaian teknologi pendidikan di berbagai jenis dan jalur pendidikan yang sesuai. "Kita berharap, semua sekolah terhubung dengan internet. Anak - anak bisa belajar dengan menyenangkan," katanya.

Gubernur Papua Barnabas Suebu mengatakan, Pemerintah Daerah Provinsi Papua telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi kurangnya fasilitas dan sumber pembelajaran. Dia mengatakan, saat ini Pemerintah Papua akan melengkapi infrastruktur telekomunikasi bagi 3.000 sekolah dan 3.000 desa. "Yang sekarang kita mulai adalah melengkapi semua kampung dan sekolah dengan perangkat keras parabola, televisi, radio menggunakan (tenaga) energi matahari," katanya. Barnabas menyebutkan, Pemerintah Papua telah menganggarkan Rp300 milyar pada 2009 untuk menyediakan berbagai perangkat tersebut. "Kalau bisa tiga tahun sudah bisa pasang semua," katanya.

Fasli menambahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menggandeng Institut Teknologi Bandung dan Universitas Cendrawasih untuk mendukung dari sisi teknologi dan Universitas Pendidikan Indonesia untuk mengembangkan kontennya. TV Papua, kata dia, juga telah menyediakan waktu selama dua jam setiap hari untuk menayangkan konten pendidikan. Sementara, lanjut Fasli, untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia telah disiapkan sebanyak 1.000 sarjana masing - masing 300 dari bidang teknologi dan 700 dari berbagai bidang seperti pertanian, kesehatan, peternakan, dan sosial budaya. "Nah kombinasi ini yang membuat program itu lebih mungkin nanti untuk berjalan berkelanjutan," katanya.

"Saya tidak bisa menggunakan Komputer dan Internet, karena benda itu tidak ada di sekolah kami" ~Seorang Guru Desa~ 

Semoga Bermanfaat, Semangat, Mohon Maaf apabila ada kesalahan penulisan, Terima Kasih.

Salam Pendidikan Untuk Peradaban. 

Penulis ulang: Arip Nurahman Departemen Pendidikan Fisika, 
FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia & Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, Cambridge, USA.

Peneliti Muda di Laboratorium, Fisika Bumi Siliwangi UPI, Bandung

"Sekolah! Masa depan bangsa ini tergantung pada anak-anak muda yang ada di negara ini. Kalau sekolah kita ditelantarkan, sampai kapanpun tidak mungkin negara ini akan maju. Sambungkan 220.000 sekolah ke internet, sambungkan 46,5 juta anak Indonesia ke internet. Itu aja sih..." 
~Onno W. Purbo~

Sumber: 

1. Pers Depdiknas 
2. Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia http://kurtek.upi.edu/ 
3. Smansabanintv's Channel SMAN 1 Banjar Internet Television 
4. Awal Sejarah Internet di Indonesia dan Kota Banjar 

Ucapan Terima Kasih: Kepada orang tua kami yang senantiasa memberikan dorongan Do'a dan materil, Guru-guru dan dosen atas bimbingan serta ilmu yang telah engkau berikan. 

Sahabat, teman dan saudara-saudara yang selalu saya kasihi dan teruntuk orang-orang yang Kusayangi! 

Terus Berjuang, dan Bersemangat!

Jumat, 01 Juni 2012

Science, Engineering, Technology and Education

The distinction between science, engineering and technology is not always clear. Science is the reasoned investigation or study of phenomena, aimed at discovering enduring principles among elements of the phenomenal world by employing formal techniques such as the scientific method. Technologies are not usually exclusively products of science, because they have to satisfy requirements such as utility, usability and safety.
Engineering is the goal-oriented process of designing and making tools and systems to exploit natural phenomena for practical human means, often (but not always) using results and techniques from science. The development of technology may draw upon many fields of knowledge, including scientific, engineering, mathematical, linguistic, and historical knowledge, to achieve some practical result.
Technology is often a consequence of science and engineering — although technology as a human activity precedes the two fields. For example, science might study the flow of electronsin electrical conductors, by using already-existing tools and knowledge. This new-found knowledge may then be used by engineers to create new tools and machines, such assemiconductors, computers, and other forms of advanced technology. In this sense, scientists and engineers may both be considered technologists; the three fields are often considered as one for the purposes of research and reference.
The exact relations between science and technology in particular have been debated by scientists, historians, and policymakers in the late 20th century, in part because the debate can inform the funding of basic and applied science. In immediate wake of World War II, for example, in the United States it was widely considered that technology was simply "applied science" and that to fund basic science was to reap technological results in due time. An articulation of this philosophy could be found explicitly in Vannevar Bush's treatise on postwar science policy, Science—The Endless Frontier: "New products, new industries, and more jobs require continuous additions to knowledge of the laws of nature... This essential new knowledge can be obtained only through basic scientific research." In the late-1960s, however, this view came under direct attack, leading towards initiatives to fund science for specific tasks (initiatives resisted by the scientific community). The issue remains contentious—though most analysts resist the model that technology simply is a result of scientific research.

Technology in Education


Supporting Materials

Additional Resources

  • Internet Links
    Although NCREL takes care in selecting other Internet sites to which it links or points, such selection does not imply endorsement by NCREL, its partners, or funding agents.

References


  1. ^ a b "Definition of technology". Merriam-Webster. Retrieved 2007-02-16.
  2. ^ Franklin, Ursula. "Real World of Technology". House of Anansi Press. Retrieved 2007-02-13.
  3. ^ "Technology news". BBC News. Retrieved 2006-02-17.
  4. ^ Stiegler, Bernard (1998). Technics and Time, 1: The Fault of Epimetheus. Stanford University Press. pp. 17, 82. ISBN 0-8047-3041-3.
  5. ^ "Industry, Technology and the Global Marketplace: International Patenting Trends in Two New Technology Areas". Science and Engineering Indicators 2002. National Science Foundation. Retrieved 2007-05-07.
  6. ^ Borgmann, Albert (2006). "Technology as a Cultural Force: For Alena and Griffin" (fee required). The Canadian Journal of Sociology 31 (3): 351–360. doi:10.1353/cjs.2006.0050. Retrieved 2007-02-16.
  7. ^ Macek, Jakub. "Defining Cyberculture". Retrieved 2007-05-25.
  8. ^ "Science". Dictionary.com. Retrieved 2007-02-17.
  9. ^ "Intute: Science, Engineering and Technology". Intute. Retrieved 2007-02-17.