Jumat, 18 Mei 2012

Muasal Sejarah Nama Indonesia

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang).


Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara. Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). 

Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa). 

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). 

Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais). Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” ( Bahasa Latin insula berarti pulau). 

Nama Insulinde ini kurang populer. Indonesia Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. 

Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: “… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians”.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon ( Srilanka ) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa nahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. 

Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. 

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: “Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago”. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. 

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. 

Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan. Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). 

Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiĆ«r (orang Indonesia). Identitas Politik Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. 

Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. 

Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya : “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. 

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.” Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924). Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. 

Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”.

Tetapi Belanda menolak mosi ini. Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda”.

Dan setelah itu lahirlah bangsa Indonesia. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Selasa, 01 Mei 2012

Wacana dan Realita Konstruksi Pendidikan Karakter dalam Kampus

Isu yang merebak sebagai hasil kesadaran cendikiawan kini menghembuskan wacana yang santer diperbincangkan khalayak umum “Pendidikan Karakter”. 

Ambruknya moral, akhlak maupun karakter dengan bukti nyata di depan mata yang setiap kita lihat, kita dengar, dan juga kita bicarakan, dengan jumlah yang tidak sedikit : uang rakyat yang ditimbun dan digunakan oleh wakil rakyat untuk kepentingan pribadi yang kemudian menempatkan nama Indonesia pada jajaran atas Negara korup di dunia.

Jika sebagai mahasiswa dengan jargon besar : Agent of Change, yang menyulap lingkungan kampus menjadi masyakarat sebenarnya saja tak memiliki apa yang dikatakan karakter, maka layaklah bangsa kita masih dipandang sebelah mata. Jika orang terdidik dengan sandangan “Mahasiswa” saja tidak lebih baik daripada yang tak mengeyam bangku kuliah.


Bangsa kita memiliki banyak manusia maupun insan cendikia, pandai, cerdas, dan grade yang tinggi untuk masalah intelektualitas, tapi nol besar dalam hal karakter.

Kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras dan berderet-deret kata perilaku mulia sudah jarang ditemui menempel pada mahasiswa, jarang tidak berarti tidak ada, namun jarang berarti sedikit, karena pada faktanya, agent of change kebanyakan ternyata lebih berakhlak seperti koruptor dengan mencontek saat ujian, mengerjakan tugas dengan copy paste, telat masuk kuliah, bahkan tidak menghormati dosen, juga berderet-deret kata tak terpuji lainnya.

Bahkan sifat dan sikap mahasiswa dibandingkan anak SMP atau SMA tidak ada bedanya. 

Karakter sebagai indentitas seseorang tentu menjadi penting karena bangsa kita telah lama memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kurang kondusif untuk membangun bangsa yang unggul.

Bahkan Yan Sugiarto (2009:11-13) mengemukakan 55 kebiasaan kecil yang menghancurkan bangsa. Tampaklah sangat benar istilah “sedikit-sedikit menjadi bukit”. 

Bukan lagi kemakmuran dan kegemilangan yang kita bangun untuk bangsa, tapi kehancuran yang lebih cepat telah dirancang oleh manusia bernama mahasiswa.

Mahasiswa yang membangun rumah megah dengan pondasi yang rapuh. Anjloknya karakter bangsa yang terindikasi karena rendahnya pendidikan menjadi topik yang terus diperbincangkan. Mahasiswa yang kini memiliki karakter “baik” ternyata jumlahnya jauh lebih sedikit.

Di dalam kamus Psikologi dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran.

Jujur dan disiplin waktu, dua karakter yang kini langka ditemui ada pada mahasiswa. Dua karakter yang kini juga membawa Jepang sebagai Negara besar dan makmur. 

Perspektif bengkok berupa semboyan “Jujur Ajur” dengan aktualisasi instan berupa nilai baik tanpa belajar, kondisi yang lebih enak mendapatkan ikan daripada harus berlelah-lelah dengan kail, puas dengan nilai A tanpa penguasan ilmu dan materi yang baik, prinsip yang salah besar mengenai “kuliah untuk nilai dan ijazah” bukan “kuiah untuk ilmu” yang kemudian berkelanjutan dengan penghalalan segala cara untuk nilai A tersebut. Kondisi yang selalu melenakan ini kemudian dijadikan berbagai alasan untuk bersenang-senang ketepian, berakit-rakit kehulu. 

Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya pendidikan karakter adalah system pendidikan yang kurang menekankan pembentukan karatker, dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung pembangunan karakter (Furqon Hidayatullah, 2010:17). Lagi-lagi kesalahan system pendidikan. Kesalahan orientas yang hanya mengutamakan penguasaan IPTEK daripada IMTAQ yang seharusnya seimbang telah menjadi ketimpangan yang kini menyebabkan bangsa kita terseok-seok. 

Banyak manusia pintar yang merugikan orang lain, masyarakat, dan Negara. Mahasiswa sebagai calon pemimpin, pemegang estafet kelangsungan bangsa yang mendalami ilmu di perguruan tinggi sebagai calon intelektual harusnya mempersiapkan diri, tak hanya dalam intelektualitasnya, namun juga hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan pribadi dan karakternya. 

Di sisi lain, mahasiswa hendaknya mampu bersikap terbuka, berpikir dan berperilaku demokratis, mengembangkan kreatifitaas, dan peka terhadap permasalahan di sekitarnya. Dengan bekal itulah peranan mahasiswa di masa depan menjadi penting dan strategis. Penting karena mahasiswa merupakan kelompok yang telah mendapatkan kesempatan dan prioritaas lebih daripada kelompok lain, strategis karena kesempatan itu merupakan arena dalam meningkatkan aktualitas diri. 

Tanggung jawab esensiil mahasiswa adalah sebgai pembangkit kekuatan individual sebagai dasar yang paling menentukan daripada kemampuan berpikir analitis dan sistesis. Dengan begini berarti bahwa mahasiswa pada hakekatnya bukanlah manusia rapat umum, tapi manusia menganalisis.

Sebagai penganalisis, mahasiswa bukan semata-mata pemburu ijazah, tetapi seharusnya merupakan penghasil gagasan yang disajikan dalam bentuk pemikiran yang teratur yang banyak sedikitnya sesuai dengan hakekat ilmu. 

Posted By: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Selasa, 10 April 2012

Teori Struktur Kemiskinan

Teori Struktural yang bertolak belakang dengan terori perilaku memandang bahwa hambatan-hambatan struktural yang sistematik telah menciptakan ketidaksamaan dalam kesempatan, dan berkelanjutannya penindasan terhadap kelompok miskin oleh kelompok kapitalis. Variasi teori struktural ini terfokus pada topik seperti ras, gender atau ketidak sinambungan geografis dalam kaitannya atau dalam ketidak terkaitannya dengan ras. 

Menurut Michael Sherraden bahwa dalam berbagai bentuk, teori budaya miskin ini berakar pada politik sayap kiri (Lewis) dan politik sayap kanan (Banfield). Dari sayap kiri, perspektif ini dikenal sebagai situasi miskin, yang mengindikasikan bahwa adanya disfungsi tingkah laku ternyata merupakan adaptasi fungsional terhadap keadaan-keadaan yang sulit (Michael Sherraden : 2006, Parsudi Suparlan : 1995). Dengan kata lain kelompok sayap kiri cenderung melihat budaya miskin sebagai sebuah akibat. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam studi tentang kemisinan, yaitu pedekatan obyektif dan pendekatan subyektif.



Pendekatan obyektik yaitu pendekatan dengan menggunakan ukuran kemiskinan yang telah ditentukan oleh pihak lain terutama para ahli yang diukur dari tingkat kesejahteraan sosial sesuai dengan standart kehidupan, sedangkan pendekatan subyektif adalah pendekatan dengan menggunakan ukuran kemiskinan yang ditentukan oleh orang miskin itu sendiri yang diukur dari tingkat kesejahteraan sosial dari orang miskin dibandingkan dengan orang kaya yang ada dilingkungannya. Seperti diungkapkan oleh Joseph F. Stepanek, ed. (1985) bahwa pendekatan subyektif menilai kemiskinan berdasarkan pendapat atau pandangan orang miskin sendiri. 

BAPPENAS menggunakan beberapa pendekatan utama untuk studi kemiskinan antara lain; pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach), pendekatan pendapatan (income approach), pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan pendekatan objective and subjective. Pendekatan obyektif atau sering juga disebut sebagai pendekatan kesejahteraan (the welfare approach) menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus dipenuhi agar keluar dari kemiskinan. 

Dengan menggunakan pendekatan obyektif banyak ditemukan berbagai dimensi pendekatan yang digunakan oleh para ahli maupun lembaga. struktur sosial. Sebaliknya kelompok sayap kanan melihat tingkah laku dan budaya masyarakat kelas bawah yang mengakibatkan mereka menempati posisi di bawah dalam struktur sosial. Kemiskinan-kemiskinan berdasarkan subyektifitas hadir karena memang dari diri individu sendiri kurang dapat memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan primer, sekunder maupun kebutuhan tersier. Rasa cukup atau rasa bersyukur yang kurang dari nidividu yang menyebabkan budaya miskin terus ada dan lestari. 

Jika dilihat secara pendapatan yang dimiliki atau pendapatan Negara dirasa cukup akan tetapi mental dari individu atau masyarakat miskin maka tetap saja diri mereka menganggap miskin. Sedangkan untuk Pendekatan kebutuhan disebut bahwa Pendekatan kebutuhan dasar, melihat bahwa kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan (lack of capabilities) seseorang, keluarga dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan minimum, antara lain pangan, sandang, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan, penyediaan air bersih dan sanitasi. 

Sering juga disebut kebutuhan primer. Untuk pendekatan pendapatan, melihat bahwa kemiskinan disebabkan oleh rendahnya penguasaan asset, dan alat-alat produktif seperti tanah dan lahan pertanian atau perkebunan, sehingga secara langsung mempengaruhi pendapatan seseorang dalam masyarakat. Pendekatan ini, menentukan secara rigid standar pendapatan seseorang di dalam masyarakat untuk membedakan kelas sosialnya. 

Dari berbagai pendekatan untuk studi kemiskinan masyarakat terstruktur dapat dikatakan bahwa kemiskinan dapat terbagi dalam merbagai sudut pandang, antara lain: 

1) Miskin karena pandangan dan anggapan orang lain. 

2) Individu menganggap diri mereka sendiri miskin. 

3) Miskin karena tidak cukup memenuhi kebutuhan premier dan, 4) pendapatannya dibawah masyarakat secara umum. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Rabu, 04 April 2012

Administrator Baru Banjar Cyber School


Nama: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Education:

University

Sebelas Maret University
School year 2010 : Prodi Pendidikan Sejarah · Pendidikan IPS · FKIP
Pendidikan Sejarah: Angkatan 2010

Secondary school

SMAN 1 BANJAR
School year 2008



About Fazar Shiddieq:

aku bukan orang sempurna
aku pernah khilaf
aku pernah salah
aku bisa salah
aku bisa khilaf
tapi aku berusaha untuk tidak seperti itu
walau tak mungkin untuk tidak sama sekali
I'm trying



Segenap Pengurus Lama mengucapkan Selamat Berkarya

Mohon maaf apabila Administrator Sebelumnya ada kesalahan dan kehilafan.

Arip Nurahman & Ridwan Firdaus

Senin, 02 April 2012

n(E)geriku

Bosan aku mengatakan ini.

Bosan aku melakukan hal semacam ini. 

Aku rindu kejayaan sebuah negeri.

Dari yang ada hingga tiada.

 Belum cukup negeri menjadi misteri.

Mulai Proklamasi hingga sampai Reformasi.

Para tikus senang mengotori sang saka.

Hingga akhirnya para pendiri bangsa enggan berdoa dari dalam goa.

Banyak keadilan yang dinilai kurang adil.

Dari sendal jepit yang dimiliki kaum kecil.

Tak ubahnya seekor rubah di kantong tuan.

Melalui profesi kau khianati janji dan memegang kendali untuk bertahan.

Aku sedih melihat kesedihan di langit.

Air mata yang menetes di butanya negeri dan gelak tawa di cangkir para petinggi.

Yang Maha kian hari kian merana.

Hingga tak ada rasa sadar dan salah atas dasar sejarah.

Mulai melihat satu sama lainnya.

Mencari demi masa depan yang belum pasti kebenarannya.

Onggok ketidaktahuan akibat tidak mau mengerti.

Melawan butir falsafah hidup dari tingginya supremasi Garuda.

Pendidikan merasuk pada semangkuk abu.

Mengisi kekosongan disegala sektor dari buku hingga sabu.

Kaum kerja jadi takut bila terus berubah.

Dari hasil panen desa hingga buruh yang tak mau rubuh.

Si tahta kian bingung mengatur jubahnya dari kamar.

Si murba menangis meminum air mata dari dalam jeruji besi.

Model tv jadi rebutan masa kini. Tak laku bila tanpa memakai pakaian yang baru.

Terus disorot hingga mata menjadi melotot.

Dari tiru-tiru barat yang tak menyadari tentang melarat.

Dari berdikari hingga masa actie.

Dari rusaknya hutan hingga hanyutnya pertiwi.

Bukan almamater yang terlipat rapi di almari.

Hingga apatis dan hedon selalu berebut massa di siang hari.

Senjata khas menjadi mainan yang lumrah.

Hukum rimba yang hanya akan membuang darah.

Dari saku hingga uang pribadi.

Baik cair maupun padat menjadi dilema bagi yang mengabdi.

Ya, itu n(E)geriku

Posted by:  Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Minggu, 01 April 2012

Trik Meningkatkan Daya Ingat

Apakah Anda bermasalah dengan daya ingat? 

Jika Anda mengalami masalah dengan daya ingat, maka saya akan memberikan solusi sederhana namun akan sangat bermanfaat bagi Anda semua. Daya ingat merupakan hal yang paling pokok sebagai modal kita menjalani hidup ini yang penuh dengan berbagai persoalan. Bayangkan saja, kita memiliki begitu banyak persoalan dan begitu banyak hal yang perlu kita ingat setiap saat. 

Apabila daya ingat kita termasuk kategori lemah, maka hal itu akan menyebabkan kita pada kondisi yang mengkhawatirkan. 

Mengapa? 

Karena apabila daya ingat kita lemah, maka berbagai persoalan dan berbagai hal yang perlu kita ingat, akan menjadi berantakan, tidak ada prioritas apalagi solusi. Berikut tips yang bisa Anda coba, diantaranya : 

1. Jadikan Olahraga sebagai kebutuhan dan rutinitas harian Anda. Kita mengetahui bahwa dengan olahraga yang teratur dapat meningkatkan kebugaran tubuh dan membuat berbagai organ tubuh kita menjadi sehat. Dengan olahraga teratur, dapat memperlancar peredaran darah dan nutrisi ke otak, sehingga kemampuan kerja otak akan semakin maksimal. 

2. Hendaknya Anda membiasakan diri dengan tidur yang cukup. Kelelahan dan stress membuat kita menjadi mudah lupa dan membuat fungsi otak tidak maksimal sehingga akan menurunkan daya ingat. Banyak informasi yang seharusnya bisa kita simpan di otak, namun karena posisi kita dalam kelelahan dan stress, maka informasi yang seharusnya kita simpan akan hilang begitu saja. Sehingga Anda harus membiasakan diri dengan tidur yang cukup agar fungsi otak kembali normal. 

3. Berhati-hatilah dengan Suplemen penambah daya ingat. Saat ini banyak sekali suplemen penambah daya ingat yang beredar, namun apakah Anda yakin dengan semua promosi perusahaan-perusahaa pembuat supleman tersebut yang mengklaim dengan produk suplemennya dapat menambah daya ingat Anda? Dalam hal ini, para ilmuwan tidak secara bulat menegaskan tentang hal ini. Sehingga Anda harus mengkaji ulang dengan cara seperti ini, tentunya dengan berkinsultasi dengan dokter Anda. 

4. Kendalikan rasa stress yang menyelimuti pikiran Anda. Setiap orang memiliki tingkat stress yang berbeda. Dan Anda seharusnya dapat mengendalikan stress yang menghinggapi hidup Anda. Stress yang berlebihan, dapat mengganggu daya ingat Anda. Salah satu caranya dengan senantiasa menyikapi berbagai permasalahan yang masuk dalam hidup Anda. Hadapi ia dengan bijak, dan Anda akan terbebas dari stress yang mengganggu pikiran Anda. Sehingga daya ingat Anda tidak akan banyak terpengaruh oleh setiap permasalahan yang muncul. 

5. Segera obati depresi Anda. Jika Anda dalam keadaan depresi, putus asa dan gelisah, maka hal itu akan mempengaruhi daya ingat Anda. Sebaiknya Anda segera mengobati depresi itu dengan cara-cara yang menurut Anda terbaik atau bisa berkonsultasi dengan ahli psikologis. 

6. Hendaknya Anda selalu mengawasi obat-obatan yang dikonsumsi. Menurut keterangan beberapa dokter, ada beberapa jenis obat yang dapat menurunkan daya ingat Anda. Diantara obat-obatan tersebut adalah antidepressant, antihistamin dan berbagai jenis obat darah tinggi. Bila Anda memang sangat membutuhkan obat-obatan tersebut, hendaknya meminta saran dan resep dokter. Jangan lupa untuk menanyakan efek samping yang ditimbulkan dari obat-obatan tersebut. 


7. Cobalah dengan melakukan permainan yang berhubungan dengan daya ingat. Anda bisa mempartajam daya ingat Anda dengan melakukan beberapa permainan seperti catur, scrabble atau lainnya. Dengan permainan yang butuh konsentrasi penuh, akan membuat daya ingat Anda semakin terlatih dan tentunya akan mempertajam daya ingat Anda. 

8. Jangan pernah berhenti untuk terus belajar dan mengasah kemampuan otak. Jika Anda merasa daya ingat Anda semakin melemah, Anda dapat mempertajam kembali dengan cara membiasakan diri belajar. Dalam kegiatan belajar ini Anda bisa mengikuti perkuliahan, seminar, kursus bahasa, atau kegiatan belajar lainnya yang sifatnya mengasah otak Anda untuk mempertajam daya ingat Anda. Anda juga bisa melakukan dengan cara-cara sederhana seperti mengingat nomor telepon keluarga, teman atau nomor-nomor penting lainnya. Atau Anda juga bisa mengingat berbagai password yang Anda miliki. 

9. Hendaknya Anda berusaha meningkatkan konsentrasi dan memfokuskan pikiran. Cobalah Anda menyempatkan diri untuk memfokuskan pikiran Anda serta melatih konsentrasi Anda dalam kesendirian. Ingat kembali berbagai peristiwa hidup Anda, berbagai hal yang harus disiapkan baik di rumah, kantor atau sekolahan. Atau bisa juga dengan mengingat berbagai benda yang Anda simpan. 

Dengan seringnya melatih konsentrasi dan memfokuskan pikiran, tentunya hal ini akan kembali menyegarkan daya ingat Anda. Tumbuhkan rasa optimis dalam diri Anda. Optimis akan suatu perubahan sangat dibutuhkan dalam upaya mempertajam kembali daya ingat Anda. Dengan rasa optimis ini, akan membuka pikiran Anda untuk membuka ruang dan berusaha keras meningkatkan kembali daya ingat Anda yang lemah. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah