Minggu, 20 November 2011

Membangun Kota Berbudaya Literasi III

"Manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna"
~Urang Sunda Proverbium~

(Gunakan akal dalam melangkah, buat apa Yang Maha Kuasa menciptakan akal kalau tidak digunakan sebagai mestinya).




Manajemen Simbol-Simbol Budaya Literat

Tampaklah bahwa modernisasi, khususnya pembangunan kota, memerlukan dukungan teks-teks yang ditata secara cerdas sebagai simbol literat pembangunan kota. Dengan demikian, perlu diciptakan manajemen profesional pembangunan kota yang memahami psikologis dan sosiologi teks-teks itu.

Moto-moto warisan Orde Baru seperti “Berhiber’ (Bersih, Hijau, Berbunga) ‘Berseka’ (Bersih, Sehat, Kayungyung), dan sebagainya mungkin diniati sebagai visi atau simbol literat pembangunan kota, walau teks-teks baru berfungsi sebagai janji gombal, bukannya amalan literat keseharian warga kota.

Moto-moto yang tertulis pada taksi tidak ada apa-apanya, manakala sopir taksi itu parkir sembarangan, melanggar aturan lalu-lintas, atau memperdaya penumpang. Bila ini terjadi, dan memang sering terjadi, inilah bukti kesenjangan pemahaman akan visi antara birokrat pemerintah daerah dan stakeholder lain. Ini bukti kegagalan komunikasi antara manajer pembangunan dan unsur-unsur marjinal: sopir taksi, pedagang kaki lima, petugas parkir, penyapu jalan dan lain sebagainya.

Visi memang harus alami, lentur, adaptif, komunikatif, dan diyakini Bersama, serta internalisasinya memerlukan waktu lama. Ini semua hanya mungkin terjadi bila semua stakeholder memiliki tingkat pendidikan yang memadai, yakni berbudaya literat untuk mengikuti alunan dan irama pembangunan kota.

Pembangunan literasi, dengan demikian harus mendahului pembangunan sektor-sektor lain.

Keberadaan lembaga-lembaga budaya literat seperti universitas, sekolah, Perpustakaan, museum, gelanggang remaja dan pusat-pusat kebudayaan adalah mutlak bagi pembangunan budaya literat demi pembangunan. Singkatnya, pembangunan budaya literat adalah peneratas jalan pembangunan manusia mulia yang berpendidikan, berperadaban, dan bernurani modernisasi.



Strategi Kota Banjar Menuju Kota Berbudaya Literasi

Bagaimana Kota Banjar Melahirkan Manusia-Manusia yang Paripurna

(Insan Kamil dan Rohmatan Lil alamin)

?

Berakhlakulkarimah

Menciptakan dan Mengembangkan Kota Berbudaya IPTEKS

?

Sumber:

Prof. H. Chaedar Alwasilah, M.A. Ph.D.

(Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia)

Jumat, 11 November 2011

Membangun Kota Berbudaya Literasi II






"There is creative reading as well as creative writing."
~Ralph Waldo Emerson~

Indikator Budaya Literat

Demokratisasi politik hanya dapat direalisasikan jika semua warga masyarakat memiliki budaya literat dengan tiga indikator berikut.

Pertama, seseorang disebut literat apabila ia memiliki pengetahuan dan keterampilan pokok untuk melibati segala kegiatan di lingkungan literatnya. Ia mesti tahu alamat dan nomor telepon kantor RT, RW, kantor polisi terdekat, tempat-tempat pengaduan masyarakat seperti layanan air minum, dan sebagainya. Iapun mesti mengetahui perkembangan mutakhir ihwal nama jalan, arah lalu lintas, dan agenda kegiatan kota.


Kedua, pengetahuan dan keterampilan literat itu diperlukan untuk berperan secara efektif dalam kelompok dan masyarakatnya. Seorang literat memiliki dua jenis ilmu pengetahuan dan keterampilan yaitu pengetahuan dan keterampilan literat umum (generic) seperti disebut di atas.

Sedang pengetahuan dan keterampilan literat khusus untuk berfungsi efektif demi karier dan profesi, seperti pengacara, pebisnis, pengajar, teknokrat, dokter dan sebagainya. Keterampilan profesional ini adalah bendera spesialisasi, dan spesialisasi adalah tulang punggung modernisasi. Dalam membangun bangsa , segala jenis pekerjaan seyogyanya ditangani mereka yang ahli dan disiapkan untuk pekerjaan itu. Tanpa dua keterampilan ini, tidaklah mungkin bagi seseorang untuk berpartisipasi secara penuh dalam pembangunan.

Ketiga, seorang literat memiliki kemampuan membaca, menulis dan aritmetika untuk memfasilitasi pembangunan diri dan masyarakatnya. Frase kunci di sini adalah memfasilitasi pembangunan, yakni apa yang ditulis dan dibaca (teks) itu mendukung pembangunan. Sebuah teks sebagai simbol literasi akan memfasilitasi pembangunan jika memenuhi empat syarat, fungsional, mudah terbaca, dipahami, dan tidak menyesatkan.

Agar berfungsi, secara fisik teks harus tetap dipertahankan. Misalnya, rambu-rambu lalu lintas, nama gedung, dan sebagainya adalah rambu-rambu budaya literat, karen itu harus diposisikan dalam konteks manajemen pembangunan kota. Agar mudah terbaca, teks ditampilkan dengan jenis dan ukuran huruf dan desain yang menarik dan komunikatif untuk memudahkan pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor.


Kemenarikan juga dapat dicapai dengan menampilkan sesuatu yang unik atau kekhasan lokal, misalnya di Yogyakarta dan Solo dengan menyertakan tulisan Jawa pada nama-nama jalan. Teks itu seyogyanya dimengerti anggota masyarakat sebagai pelibat pembangunan.

Iklan, pemberitahuan, atau pengumuman yang ditulis dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, kurang mendukung pembangunan. Mereka tampil gaya tetapi tidak berdaya, dekoratif tetapi tidak komunikatif. Teks-teks demikian tampil pongah diskriminatif terhadap mayoritas anggota masyarakat literat sendiri.

Sementara ini kaum mayoritas (orang asing) yang dimanja sebagai tamu kota justru kurang suka dengan basa-basi ini. Kepongahan ini memperlihatkan lemahnya kepercayaan dan kebanggaan akan bahasa nasional. Sesungguhnya para turis asing harus ditantang untuk menguasai keterampilan literat fungsional sewaktu berinteraksi di Indonesia, dan tantangan literat ini justru merupakan satu pencerahan Intelektual dan bagian yang inheren dari wisata itu sendiri.


Informasi yang salah atau kadaluarsa sesungguhnya menghambat pembangunan. Peta kota, leaflet, brosur, buletin, dan barang cetakan sejenisnya yang kadaluarsa, misalnya, bukan hanya membodohi dan menyesatkan tapi juga memutuskan silaturahmi kebudayaan, dan me-nohok transaksi pembangunan kota. Teks-teks kadaluarsa seperti halnya makanan dan minuman kadaluarsa, seyogyanya segera dimusnahkan atau dimuseumkan.

Lalu bagaimana Kota Banjar akan mengembangkan budaya literasi ini?

To Be Continued

Sumber:

Prof. H. Chaedar Alwasilah, M.A. Ph.D.

(Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia)

Minggu, 06 November 2011

Membangun Kota Berbudaya Literasi


Daniella Jaladara adalah nama pena Heni, seorang penulis yang sedang naik daun dari kalangan Buruh Migran Indonesia Hong Kong.

Lahir di Ciamis, 2 Mei 1987, merupakan pendiri sekaligus direktur Abatasa Library and Learning Centre, Hong Kong. Menyelesaikan pendidikan formalnya di SMKN 1 Banjar, St. Mary’s University (Cum Laude, Salah Satu Lulusan Terbaik, dan Tercepat Menyelesaikan S1; 2,5 Tahun) dan Universitas 17-08-1945.

Ia telah menerbitkan buku kumpulan cerpen: Un Dans L’Éternité dan Senja di Pesisir Tsing Ma adalah kumpulan cerpen kedua. Karyanya juga tergabung dalam beberapa antologi di antaranya: Surat Berdarah Untuk Presiden dan Bicaralah Perempuan. Karya-karyanya sebagian besar bercerita tentang realitas kehidupan kaum pekerja migran. Tulisan lainnya tersebar di beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Indonesia di Hongkong. Penghargaan yang pernah diperolehnya adalah:

Juara 1 se-Asia lomba menulis surat untuk presiden dan anugerah BISA
(Be Indonesian Smart and Active) Award.


Penulis bisa dihubungi di:

jaladara10@yahoo.com.hk.

Sejak kecil mengaku sudah belajar menulis.

“Aku belajar menulis sejak SD. Saat itu aku sangat suka membaca buku-bukunya N.H. Dini, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, dan lain lain.”

“Dari membaca tulisan mereka, meskipun saat itu aku tak mengerti keseluruhan tentang tulisan mereka, tapi buku-buku itu berhasil menginspirasiku untuk menulis dan membaca lebih banyak.” Kata Beliau

Sekarang Beliau tinggal di Pataruman Banjar.

Inilah Web Pribadi Beliau

a Little Journey .. a Big World



Bambang Achdiyat, S.Pd. adalah Guru, Motivator dan Penulis Belajar Menuju Ihsan. Lahir di Ciamis, lulusan Universitas Pendidikan Indonesia.


Mari Kita Membangun Kota Berbudaya Literasi

Pada tahun 1987 di Amerika Serikat terbit Cultural Literacy: What Every American Needs to Know karya ED Hirsch Jr dan The Closing of The American Mind karya Allan Bloom. Kedua buku best sellers ini secara kritis menunjukkan menurunnya tingkat literasi generasi muda Amerika dan perlunya tindakan korektif melalui pembenahan kurikulum language art dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Webster’s New Collegiate Dictionary menurunkan batasan literate sebagai orang yang berpendidikan, berbudaya mampu membaca dan menulis (1981:666). Ini satu kesaksian bahwa dalam tradisi Eropa, ciri orang yang berbudaya itu adalah keseimbangan antara kemampuan membaca dan menulis.

Dalam tradisi Indonesia, yang lebih berbudaya ucap-dengar ketimbang berbudaya baca-tulis, batasan literasi cenderung mengabaikan komponen menulis. Tidaklah aneh bahwasanya mayoritas ulama dan dosen di Indonesia tidak mampu menulis buku ajar.

Literacy, diindonesiakan sebagai melek huruf, kemampuan berbaca tulis, kemelekwacaan, atau literasi. Literasi mencakup kemampuan membaca petunjuk meminum obat, mengisi formulir lamaran kerja, sampai menganalisis sebuah artikel atau berita koran. Literasi sebagai sebuah pendidikan adalah kunci untuk mendapatkan akses politik dan fasilitas-fasilitas sosial.

Kecilnya anggaran pendidikan memberi kesan adanya kesengajaan untuk membodohkan sebagian rakyat demi kepentingan politik sang penguasa. Alasannya, orang pandai cenderung kritis, dan kritikan adalah kerikil tajam bagi penguasas otoriter. Sementara itu, rakyat bodoh adalah kerbau setia untuk dipasak hidung.

(To Be Continued)


Ucapan Terima Kasih:

Bapak Drs. Nanang Sudiana, M.Pd. Guru semasa SMA atas motivasinya untuk terus menulis. Great Teacher, selalu rindu atas pengajarannya yang asik banget.

Ibu Hj. Siti S.Pd. & Ibu Nani. S.Pd. Guru semasa SMP yang senantiasa memberikan akses membaca di perpustakaan, merekalah yang memberikan dorongan untuk melahap semua isi perpustakaan kala itu, terima kasih bunda-bunda ku.

Ibu Endang Mudji, yang senantiasa bersemangat mengajarkan pentingnya berbahasa.



Sumber:

Prof. H. Chaedar Alwasilah, M.A. Ph.D.

(Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia)

Selasa, 01 November 2011

Sekolah Alam Kota Banjar

"Bekerja Sesuai Kemampuan, Upah Sesuai Pekerjaan"
(Karsan, My Lovely Grandfather)

Kata kuncinya adalah KEMAMPUAN yang berarti penguasaan terhadap Keterampilan untuk menyelesaikan suatu masalah:

Kemampuan ini akan mencakup hal-hal di bawah ini

K = Knowledge
A = Attitude & Aptitude
S = Skill
E = Eksperience
T = Technique

Kemampuan tersebut dilengkapi dengan kemauan yang kuat dengan dasar tulus ikhlas.



Senin, 24 Oktober 2011

Ibu, Ayah, Keluarga dan Sekolah


"Guru pertama dan terbaik seorang anak adalah ibunya"
~Arip~





Ada apa dengan Sekolah?

Cerita:

Thomas Alfa Edison putus sekolah Edison yang dianggap i***t dan hanya bertahan 3 bulan di SD, menjadi seorang pengusaha dan ilmuwan handal yang menemukan bola lampu, phonograph, motion picture camera, dll, membuat industrial research laboratory pertama, mematenkan 1093 paten di US, dan mendirikan perusahaan-perusahaan yang salah satunya masih bertahan sebagai perusahaan besar di masa ini, General Electric (GE).


Seems like magic?

No. Big NO.



Edison dianggap i***t karena dia memang menderita kelainan. Beberapa orang modern mendefinisikannya sebagai ADD (ADHD-PI), namun pada intinya dia tidak bisa diam, selalu bertanya, dan jarang fokus pada suatu hal karena terlalu banyak yang dia ingin tahu (sounds genius now instead of stupid?).

Akhirnya walaupun tidak sekolah, ibunya mengajarinya sendiri di rumah. Membelikan Edison buku-buku seperti “School of Natural Philosophy” dan “The Cooper Union” yang ilmunya jauh melebihi umurnya. Ini mengakibatkan Edison memahami ilmu pengetahuan dengan luas dan dalam tidak seperti anak-anak seusianya.

Edison sendiri memperoleh keahliannya dalam bidang kelistrikan dan telegraphy (telegraph untuk komunikasi) pada usia belasan tahun. Pada tahun 1868, di usia 21 tahun, dia telah mengembangkan dan mempatentkan penemuannya yang berupa sebuah mesin yang merekam telegraph.

Dimasa kecilnya, Edison hanya bersekolah di sekolah yang resmi selama tiga bulan, selanjutnya semua pendidikannya diperoleh dari ibunya yang mengajar Edison di rumah. Ibu Edison mengajarkan Edison cara membaca, menulis, dan matematika. Dia juga sering memberi dan membacakan buku-buku bagi Edison, antara lain buku-buku yang berasal dari penulis seperti Edward Gibbon, William Shakespeare dan Charles Dickens.

Edison sudah mempunya laboratorium penelitian mini waktu masih kecil


Edison di usia 12 tahun, memperoleh penghasilan dengan cara bekerja menjual koran dan surat kabar, buah apel, serta gula-gula di sebuah jalur kereta api. Di usia itu pula, Edison hampir mengalami kehilangan seluruh pendengaran karena penyakit yang dideritanya, penyakit itu membuatnya menjadi setengah tuli.

Edison pernah menulis dalam diarinya:

"Saya tidak pernah mendengar burung bernyanyi sejak saya berusia 12 tahun."

Pada usia 15 tahun, Edison, sambil tetap berjualan, membeli sebuah mesin cetak kecil bekas yang selanjutnya dipasang pada sebuah bagasi mobil. Kemudian dia mencetak korannya sendiri, WEEKLY HERALD, yang di cetak, diedit dan dijualnya di tempat dia berjualan.

Edison sangat senang mempelajari sesuatu dan membaca buku-buku yang ada. Dari semua yang dipelajarinya, Edison menerapkan pelajaran tersebut dengan cara bereksperimen di laboratorium kecilnya. Edison tinggal di laboratoriumnya, hanya tidur 4 jam sehari, dan makan dari makanan yang dibawa oleh asistennya ke laboratoriumnya. Edison melakukan percobaan dan eksperimen terus menerus hingga penemuan-penemuannya menjadi sempurna. Mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan kepandaian Edison adalah:




"Genius adalah 99% kerja keras"

Dan cerita tentang penemuan bola lampu?

Well, jarang sekali ada yang menekankan betapa keras dan beratnya kerja Edison untuk itu.

Sebenarnya Edison bukanlah yang pertama menemukan bola lampu, namun dia menyempurnakan desain dan materialnya sehingga menjadi bola lampu yang murah dan dapat digunakan dengan nyaman. Prosesnya melingkupi mencoba berbagai macam bahan dan desain untuk sumber cahayanya, prosesnya lebih kurang seperti “trial and error” berdasar teori-teori.

Yup.

Edison menggunakan lebih dari 3000 teori untuk percobaan-percobanya. Dan setelah 2 tahun penuh perjuangan akhirnya menemukan kombinasi yang tepat.


Carbonized bamboo filament. Filamen bambu terkarbonasi.


Now, untuk orang-orang yang pernah merasakan dunia riset, semua pasti tahu prosesnya. Dalam meneliti sesuatu, kita menggunakan beberapa teori (baca: paper), biasanya 2 sampai 4 paper dan mencoba-coba teori-teori itu selama beberapa bulan dan mungkin tahun. Kalau beruntung sukses, kalau sial ya gagal.


Nah, sekarang bayangkan Edison yang menggunakan 3000 paper untuk mengerjakan penelitiannya dalam 2 tahun saja.


Mengerikan

(Sampai Usia Senjanya Edison tetap Berkesperimen)


Good Conclusion

Jadi setelah membaca semua cerita di atas, dan menyadari bahwa bahkan sampai sekarang kita tidak bisa mengerjakan kalkulus, tidak bisa mendapat Nilai UN nyaris sempurna atau bekerja di Hewlett-Packard semasa SMP atau SMA, apakah kita akan menyerah pada nasib dan menerima menjadi “orang biasa”?

Well, kita melupakan kata-kata AJAIB terbanyak setelah mitos di tulisan ini.

Kata-kata terbanyak itu adalah BEKERJA KERAS

(See? I put a lot of those).


Darimana Newton mendapat teori tentang gravitasinya?

Kerja keras selama 20 tahun.



Darimana Gates dan Jobs mendapat semua ilmunya tentang komputer?

Kerja keras mempelajari komputer dari kecil.



Darimana Einstein memperoleh supremasi matematika dan fisika?

Mempelajari matematika, Fisika dan Sciences lainnya dengan tekun dari kecil.


Darimana Edison menemukan bola lampu?

Kerja Keras 3000 teori dalam 2 tahun.

Try that.

Walaupun hal-hal tersebut mungkin akan menghilangkan beribu-ribu kesenangan masa remaja kita. Apakah kita pernah mendengar bahwa Steve Jobs & Bill Gates adalah anak gaul yang fashionable yang berpakaian seperti Justin Beiber?

Or that Einstein had many girlfriends or was a womanizer/playboy?


Surely we never heard Edison smokin marijuana and get wasted.


Kita tidak pernah mendengar Steve Jobs & Bill Gates bermain game setiap hari di liburan, dan


Newton bahkan tidak pernah mempunyai seorang istri seumur hidupnya.


But if you feel that the success and glory is worth the sacrifice, there’s a good


advice:

If we like something, anything it is, and you dedicate your life to it, struggle hard, work hard, it will worth something in the end.


Catatan :

Saya tidak merekomendasikan mati karena keracunan merkuri, menjadi ilmuwan keren tanpa menikah, bekerja keras tanpa arah, Keluar Sekolah untuk menjadi pengusaha hebat. Dan saya tidak merekomendasikan memaksa anak kita mengerti integral dan diferensial sebelum umur 15.

No!!!

Don’t.

Akan berakibat buruk pada kehidupan sosialnya dan rasa percaya dirinya.


Hanya ingin berbagi bahwa lakukanlah apa yang kita cintai, Hard Work, Smart Work, Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas, belajar sepanjang hayat, lakukan dengan sepenuh hati, Percayalah Tuhan akan menjawab semua getaran harapan kita.

Wallohualam


Ucapan Terima Kasih Kepada:

1. Kak Fajar Sastrowijoyo, M.Eng. atas tulisannya

Studied Electrical engineering at Chungbuk National University, Cheongju, Korea.

2. Kak Arvino Mudjiarto, S. Si.
Founder and CEO at Worxcode

Senin, 17 Oktober 2011

Kenapa Mesti Sekolah?



Tidak perlu sekolah untuk menjadi pengusaha sukses yang menciptakan sesuatu?

Benarkah?


".....Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. "
~Alm. Steve Jobs~

Cerita : Bill Gates dan Steve Jobs putus sekolah (Enggak Kuliah)?

Aahhh, cerita favorit Motivator-motivator bisnis dan pemberontak-pemberontak yang bilang sekolah ga penting ^_^ Tidak perlu kita ceritakan di sini.

Semua orang di abad 21 yang dapat membaca pasti sudah pernah mendengar cerita panjang bagaimana Bill Gates dan rivalnya Steve Jobs putus sekolah dan membuat 2 perusahaan paling berpengaruh di awal abad 21.

Yupss: Apple & Microsoft


This story is true, but usually greatly oversimplified.


Mereka melupakan beberapa detail penting di cerita-cerita tersebut dan hanya menggambarkan,:


"Tuh, orang ga kuliah juga bisa sukses dan jadi salah 1 yang terkaya di dunia."


Ya. You can.

But read this first.

Bill Gates adalah seorang jenius sekaligus pekerja yang ulet dan tekun. Di kelas 8 (sekitar umur 13-14, kalau di Indonesia mungkin baru SMP), Gates mulai memprogram komputer di sekolahnya menggunakan bahasa BASIC.

Dia bersama 3 temannya dipekerjakan oleh Computer Center Corporation (CCC) untuk menemukan bug dalam software mereka. Dia menggunakan waktu ini untuk mempelajari bahasa2 FORTRAN, LISP, dan machine language.


Di umur 17-an (Sekitar Masa SMA), Gates membuat traffic counter menggunakan prosesor Intel 8008. Tahun 1973 dia mengikuti SAT (UAN di amerika) dan mendapat nilai 1590 dari 1600

(lihat betapa jeniusnya dia, kalau dikonversi ke NEM berapa tuh nilainya hahaha).


Dia mendaftar ke Harvard University dengan mudah (Universitas Terbaik Dunia) dan di tahun pertama dia sudah dapat membuat algoritma baru yang sangat cepat dan menjadi versi tercepat dari algoritma itu selama 30 tahun.

Berbekal semua pengetahuan ini dia membuat perusahaan bernama MicroSoft. Mungkin satu-satunya yang masa kecilnya lebih jenius dari Kang Bill Gates itu hanya orang ini ????

(Pembaca menunjuk dirinya sendiri he..,.he.,.) amin:

Well, bagi yang mengerti komputer, kemampuan dia (Kang Bill Gates) di tahun 1973 di usia 18 tahun mungkin sudah melebihi engineer-engineer komputer lulusan S1 jaman sekarang.

Dan itu 1973.

Ingat. 1973.



Rivalnya sekaligus sahabat karibnya, Om Steve Jobs, hampir sama.

(Publik lebih sering memandang kedua orang ini saling bersaing, padahal sebenarnya mereka itu bersahabat dengan kental sekali, sampai-sampai Gates punya saham di Apple dan sebaliknya Jobs juga punya saham di Microsoft)

"Satu-satunya yang tidak diketahui publik mengenai kami berdua adalah kami telah "MENIKAH" sejak lama." Kata Alm. Steve Jobs.

(Maksudnya MENIKAH di sini adalah sejak lama Apple & Microsoft sudah bekerjasama)

Waktu SMP dan SMA, dia sudah dipekerjakan oleh Hewlett-Packard sebagai pegawai musim panas. Dan walaupun dia berhenti kuliah, dia tetap mendatangi kelas-kelas kuliahnya dan mempelajari berbagai macam hal.

2 tahun setelah itu, dia sudah dapat diterima sebagai teknisi di Atari. Dengan pengetahuan jauh melebihi sarjana S1 seperti itu, tentu saja mereka dapat membuat sesuatu tanpa mengikuti kuliah.

Mereka putus kuliah karena mereka sudah bisa membuat sesuatu yang besar dan mengubah dunia.

(dan Tahukan kita, bahwa Bill Gates sekarang telah mendapatkan Gelar Doktor dari Universitas Harvard, setelah mengundurkan diri, dari CEO Microsoft, beliau sekolah lagi)

(Begitu juga dengan Om Steve Jobs, beliau adalah salah satu Penyumbang terbesar Universitas Stanford, Pendiri Universitas iTunes, anak paling besarnya sekarang sedang bersekolah di Universitas Harvard)


They are geniuses with dedication and work-hardness.

Yup, memang benar tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, tetapi dengan catatan, Anda harus mempunyai suatu keahlian yang jauh lebih tinggi dibanding lulusan sekolah tinggi yang harus dipupuk dari kecil.

Mereka menghabiskan liburan musim panas dengan mengutak-atik komputer.

Apa yang kita lakukan diliburan panjang akhir tahun SMP/SMA? Selain pergi bermain bersama teman-teman, baca komik, main PES atau Winning Eleven, pa***an, ngeband, pelesiran yang gak jelas.

(which is pretty new and interesting at those age)


Bisakah Kita menggabungkan Ke-Geniusan mereka berdua?

(Bill Jobs & Steve Gates)


“Selesaikan kuliah Anda dan raihlah gelar akademis”
~Dr. Bill Gates~



Ucapan Terima Kasih Kepada:

1. Kak Fajar Sastrowijoyo, M.Eng. atas tulisannya

Studied Electrical engineering at Chungbuk National University, Cheongju, Korea.

2. Kak Arvino Mudjiarto, S. Si.
Founder and CEO at Worxcode