Selasa, 26 Februari 2008

Universitas Harvard


(Photo by: Arip Nurahman,@ Bangunharja Village)
"Hiduplah untuk hidup dan beranilah untuk berani"~Arip Nurahman~


Bagian Dari Perkuliahan Pengenalan Terhadap Ilmu Komputer dan Internet

Kuliah 2: Perangkat Keras, Lanjutan ▶ bermain

Sekunder penyimpanan: disket, hard disk (PATA dan SATA), CD, dan DVD. Memori Virtual.

Ekspansi bus dan kartu: AGP, ISA, PCI, PCI Express, dan SCSI. I / O device. Peripherals.

Cara berbelanja untuk komputer. Sejarah.


Problem Set

Reinforce your understanding of hardware and software!



Ulangan

Test your understanding of hardware, software, and the Internet!




Sumber:


Disusun Ulang Oleh:

Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA. Universitas Pendidikan Indonesia

&

Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, Cambridge. USA.

Terima Kasih, Semoga Bermanfaat dan Tetap Semangat.

Senin, 18 Februari 2008

Pedoman Penulisan Jurnal di BALITBANG DIKNAS

Pedoman Penulisan Jurnal di BALITBANG DIKNAS

oleh: Arip Nurahman
Guru dan Dosen Profesional
Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University. Cambridge. U.S.A


Dewasa ini, merebaknya komunikasi data dan informasi global melalui fasilitas Internet merupakan salah satu gejala baru dalam globalisasi informasi yang semakin cepat dan meluas. Kami menyadari bahwa para pemakai Internet selalu membutuhkan informasi- informasi terbaru cyberspace dalam dunia yang terus berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Untuk memperluas pengetahuan dan wawasan para pengguna internet kami bermaksud memperkenalkan Balitbang Depdiknas.



Login:

Username: Aripnurahman
Password: pendidikankami




  1. Naskah belum pernah dimuat/diterbitkan di media lain, diketik dengan 2 spasi pada kertas kuarto, jumlah 10-30 halaman dilengkapi abstrak sebanyak 100-150 kata dan kata kunci sebanyak 5 pengertian (deskriptor). Naskah dikirim ke alamat redaksi dalam bentuk ketikan dan disertai disketnya. Berkas naskah dalam disket diketik dengan menggunakan pengolah kata Microsoft Word.
  2. Naskah yang dapat dimuat dalam jurnal ini meliputi tulisan tentang kebijakan, penelitian, pemikiran, reviu teori/konsep/metodologi, resensi buku baru, dan informasi lain yang berkaitan dengan permasalahan pendidikan dan kebudayaan.
  3. Artikel hasil penelitian memuat judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, dan isi. Isi artikel mempunyai struktur dan sistematika serta presentase jumlah halaman sebagai berikut.
    1. Pendahuluan meliputi latar belakang, perumusan masalah, dan tujuan penelitian (10%).
    2. Kajian Literatur mencakup kajian teori dan hasil penelitian terdahulu yang relevan (15%).
    3. Metodologi yang berisi rancangan/model, sampel dan data, tempat dan waktu, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data (10%).
    4. Hasil dan Bahasan (50%).
    5. Simpulan dan Saran (15%).
    6. Pustaka Acuan. (Sistematika/stuktur ini hanya sebagai pedoman umum. Penulis dapat mengembangkannya sendiri asalkan sepadan dengan pedoman ini).
  4. Artikel pemikiran dana atau reviu teori memuat judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, dan isi. Isi artikel mempunyai struktur dan sistematika serta persentasenya dari jumlah halaman sebagai berikut.
    1. Pendahuluan meliputi latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penulisan (10%).
    2. Kajian literatur dan pembahasan serta pengembangan teori/konsep (70%).
    3. Simpulan dan saran (20%).
    4. Pustaka Acuan. Sistematika/struktur ini hanya sebagai pedoman umum. Penulis dapat mengembangkannya sendiri asalkan sepadan).
  5. Artikel resensi buku selain menginformasikan bagian-bagian penting dari buku yang diresensi juga menunjukkan bahasan secara mendalam kelebihan dan kelemahan buku tersebut serta membandingkan teori/konsep yang ada dalam buku tersebut dengan teori/konsep dari sumber-sumber lain.
  6. Khusus naskah hasil penelitian yang disponsori oleh pihak tertentu harus ada pernyataan (acknowledgement) yang berisi informasi sponsor yang mendanai dan ucapan terima kasih kepada sponsor tersebut.
  7. Pustaka Acuan disajikan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis.
Bruner,J. 1960. The process of education. New York: Vintage
Hanafi, A. 1989. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengabdosian Inovasi. Forum Penelitian, I (1): 33-47.
  1. Tata cara penyajian kutipan, rujukan, tabel, dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Terbitan JIP. Naskah diketik dengan memperhatikan aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (terbaru).
  2. Pengiriman naskah disertai dengan alamat, nomor telepon, fax atau E-mail (bila ada). Pemuatan atau penolakan naskah akan diberitahukan secara tertulis. Naskah yang tidak dimuat tidak akan dikembalikan, kecuali atas permintaan penulis. Kepada penulis diberikan 2 eksemplar jurnal sebagai tanda bukti pemuatan.
  3. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

    Terbit enam kali setahun (2 Bulanan)

    pada bulan Januari, Maret, Mei Juli, September, November.

    ISSN 0215-2673


    Penanggung jawab

    Prof. DR. H. Mansyur Ramly


    Penyunting Ahli

    Dr. Burhanuddin Tola, M.A., Dr. Siskandar, M. A., Ade Cahyana, M.Sc.,

    Dra. Diah Harianti, M.Psi., Dr. Agung Purwadi, M.Eng.


    Penyunting Mitra Bestari

    Prof. Made Komang Tantra, M.Sc, Ph.D.

    Ketua Penyunting

    Drs. Subijanto, M.Ed.

    Penyunting Pelaksana

    Dr. Herry Widyastono, M.Pd., Dr. Retno Wahyuningsih. W.,

    Dr. Nonny Swediati, Ir. Siswo Wiratno, M.M.,

    Dra. Ida Kintamani Dewi, M. Sc., Puji Astuti, SE., M.M.,

    Drs. Sutjipto, M. Pd., Dra. Lestyani Yuniarsih, M.Ed.Adm.


    Pelaksana Tata Usaha

    Drs. Kasidjo, M.M., Syahril S Lubis, Bandiyah, S.IP.

    Penerbit

    Badan Penelitian dan Pengembangan

    Departemen Pendidikan Nasional

    Izin Terbit

    SK MENPEN NO. 1045/SK/Ditjen

    PPG/STT/1986 Tgl. 7 Agustus 1986

    dan SK MENPEN NO.:88/Ditjen PPG/K/1995

    Tgl. 30 Mei 1995

    “Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan” semula bernama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayan dan diterbitkan sejak no. 001 tahun I bulan November 1995. Akreditasi Jurnal ini telah diperbarui dengan Surat Keputusan Dirjen Dikti DepdiknasRI, No. 39/Dikti/Kep/2004 sebagai Jurnal Ilmiah Nasional.

    Alamat Penyunting dan Tata Usaha

    Sekretariat Balitbang Depdiknas

    Jl.Jend. Sudirman, Senayan

    Kotak Pos 4104, Jakarta 12041

    Telepon: (021)5731665, pes. 510, 511

    Fax: (021) 5721244 - 45

    Homepage http://www.depdiknas.go.id

    E-mail: Jurnal_dikbud@depdiknas.go.id

    Distribusi

    Bagian Umum,

    Sekretariat Balitbang Depdiknas

    Tata Usaha menerima artikel tentang kebijakan, penelitian, pemikiran, reviu teori/konsep/metodologi, resensi buku baru, dan informasi lain yang berkaitan dengan permasalahan pendidikan dan kebudayaan.

    “Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis”
Sumber: BALITBANG Diknas

Rembuk Nasional

Rembuk Nasional Pendidikan 2008: Bahas Pemantapan Sembilan Terobosan Kebijakan Pendidikan

Oleh: Arip Nurahman

Guru dan Dosen Profesional
Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, U.S.A.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan menggelar Rembuk Nasional Pendidikan (RNP) 2008 pada 4 sampai dengan 6 Februari 2008. Bertempat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Depdiknas, Sawangan, Depok, kegiatan tahunan ini akan membahas pemantapan sembilan terobosan kebijakan di bidang pendidikan.

Sekretaris Jenderal Depdiknas, Dodi Nandika, selaku Ketua Panitia RNP Tahun 2008, menjelaskan, pada RNP 2008 akan dibahas tiga materi pokok yakni, evaluasi capaian kinerja pembangunan pendidikan tahun 2005-2007,

Pemantapan pelaksanaan sembilan terobosan kebijakan pendidikan, dan peningkatan pemahaman terhadap tujuh isu pokok pendidikan.

"Tiga isu pokok ini dianggap sangat signifikan sebagai bagian dari pelaksanaan rencana strategis (renstra) Depdiknas 2005-2009," katanya saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media, Pusat Informasi dan Humas Depdiknas, Jakarta, Rabu (30/1/2008).

RNP 2008 dengan tema "Pemantapan Pencapaian Target Renstra 2005-2009" direncanakan dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada Senin, 4 Februari 2008. Kegiatan ini akan diikuti oleh sebanyak 1.225 peserta, terdiri atas para pengambil kebijakan di bidang pendidikan, diantaranya Pimpinan Komisi X DPR RI, Ketua Panitia Ad-Hoc III DPD RI, Pejabat Eselon I dan II Depdiknas, Gubernur, Bupati/Walikota, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota,

Ajang ini juga akan melibatkan para rektor perguruan tinggi negeri dan koordinator perguruan tinggi swasta (Kopertis), Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Depdiknas di daerah, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Badan Akreditasi Pendidikan, Atase Pendidikan, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, serta Dubes/KWRI RI di UNESCO.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk mewujudkan kesepahaman berbagai pihak yang berkaitan dengan pembangunan pendidikan dalam rangka meningkatkan pemerataan dan perluasan akses, meningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, serta meningkatkan tata kelola (good governance), akuntabilitas, dan citra publik.

Melalui RNP 2008 diharapkan dapat mengevaluasi program dan target kinerja pembangunan pendidikan selama tahun 2005 s.d. 2009 pada tiap-tiap unit utama di Depdiknas. Selain itu, makin mantapnya pelaksanaan sembilan terobosan kebijakan pendidikan.

Terobosan kebijakan pendidikan tersebut meliputi:

Pendanaan pendidikan,
Peningkatan kualifikasi,
Kompetensi,
dan Sertifikasi Guru dan Dosen,
Penetapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk e-pembelajaran dan e-administrasi, Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan.

Selanjutnya,
Rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan,
Reformasi perbukuan,
Peningkatan mutu,
Relevansi,
dan daya saing pendidikan secara komprehensif,
Penguatan tata kelola,
Akuntabilitas,
dan citra publik pendidikan secara komprehensif,
Serta pendidikan nonformal dan informal untuk menggapai yang tak terjangkau
(reaching the unreached).

Sementara, tujuh isu pokok pendidikan yakni:

1. Penuntasan Program Wajar Dikdas Sembilan Tahun,
2. Pemberantasan angka buta aksara,
3. Peningkatan akses ke sekolah menengah dan

4. Perimbangan jumlah siswa sekolah menengah atas (SMA) dibandingkan dengan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK),
5. Peningkatan akses dan kualitas perguruan tinggi, terutama melalui peningkatan kapasitas perluasan politeknik,
6. Redistribusi guru dan
7. Antisipasi kekurangan guru dalam waktu lima tahun ke depan.

Selanjutnya, evaluasi pelaksanaan ujian nasional (UN), kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), e-administration, e-learning, akreditasi sekolah/madrasah dan perguruan tinggi, bantuan operasional sekolah (BOS) dan BOS buku, rehabilitasi sarana dan prasarana sekolah, peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru dan dosen, dan pendidikan kecakapan hidup, evaluasi pelaksanaan otonomi satuan pendidikan dan peran serta masyarakat.

Pada pembukaan RNP 2008, direncanakan Mendiknas akan meluncurkan beberapa hasil program baru Depdiknas yakni:

1. Nomor Induk Siswa Nasional (NISN);
2. Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN);
3. Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK);
4. Pangkalan Data Informasi Berbasis Web (Padati-Web);
5. Direktori Doktor; dan
6. Perpustakaan Maya.

Selama kegiatan berlangsung, Pusat Informasi dan Humas (PIH) Depdiknas akan menyediakan fasilitas media center guna menunjang kegiatan jurnalistik bagi media cetak dan elektronik.

sumber: diknas info

Senin, 11 Februari 2008

Kualitas Pendidikan Finlandia adalah yang Terbaik di Dunia

Para Guru dan Dosen Profesional, Amin!

"Saya meyakini bahwa Kualitas Pendidikan di Indonesia akan menjadi yang terbaik pada tahun 2028, atau bahkan lebih cepat dari itu"
~Arip Nurahman~

Di tambah dan di edit oleh:

Arip Nurahman

(Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, Cambridge. U.S.A.)

Negara Finlandia bukan hanya terkenal karena negaranya mampu menjadi markas besar perusahaan NOKIA, Perusahaan Telepon genggam terbesar di Dunia, namun tahukah kita, bahwa negara ini adalah negara terbaik dalam bidang pendidikan, menurut sumber OECD (Organization for Economic Cooperation Development).

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di Dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa negara yang menduduki peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai Indonesia dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat 1 Dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD ). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA, yang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan keunggulannya dalam pendidikan untuk anak-anak lemah mental (PLB).

Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No. 1 Dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan, Finlandia memang menganggarkan biaya yang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau membombardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Lalu apa dong kuncinya?

Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas Gurunya.


1. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula.

2. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis.

3. Lulusan terbaik dari sekolah menengah biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk ke sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingannya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!

Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan serta pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri.

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.

"Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan siswa, bagaimana cara untuk lolos ujian," ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekerja dengan lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan.

"Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah," Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. "Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel.

Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan," sambungnya.

Siswa yang lambat akan mendapatkan dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya , bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut malah akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar.

Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.

"Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa," kata seorang guru, "maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!"

Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Semoga Bermanfaat!

Ucapan Terima Kasih yang Setinggi-tingginya Kepada Sahabat-Sahabat terbaik dan Inspirator-inspirator terunggulku Wabil Khusus kepada:

Gerombolan MQ (Penjaga Mesjid Manbaul Ullum First Generation)

Deni Nugraha, Nararya Rahadiyan B., Widiya Prima M., Ade Akhyar Nurdin
(Gak Pake Top) ^_^, Ismail Muhammad Syahid.

Ucapanku: "Kade euy tong paroho dahar, sare anu cukup jeung solat, sing rajin digawe jang bekel rumah tangga, najan paanggang raga jeung sukma, tanwande ulah era jeung karagok silih mamatahan dina kabeneran jeung kasabaran, kuring mah ngan saukur mere dunga!, brall geura mariang cuprih pangarti teangan kasenangan dunya, tong poho jalma leutik"

wasalam wr.wb.

sumber:Fergus Bordewich dan lainnya


Arip Nurahman
Guru dan Dosen Profesional

Rabu, 06 Februari 2008

A Story of Animal Education



“Tidak ada kegiatan OSPEK yang berisi penyiksaan dan penghinaan tidak ada hura-hura pesta masuk sekolah atau perguruan tinggi, yang ada adalah penjelasan tentang kurikulum secara komprehensif. Sang Mahasiswa ingin menjadi apa, tertarik dibidang apa, itu yang dibidik dan diarahkan oleh para Pendidik dengan penjelasan desain kurikulum beserta dengan mata kuliah/pelajaran apa yang sebaiknya diambil oleh sang Mahasiswa.”

~Romi Satria Wahono, B.Eng., M.Eng., D.Eng.~

(Founder, Ilmu Komputer.Org)


Di Negeri saya, Negeri yang banyak dengan hikayat cerita dunia binatang, tersebutlah sebuah cerita tentang sekolahnya para binatang di daerah terpencil di belahan Bumi Andalas.

Raja Hutan mengumumkan tentang dibukanya sebuah sekolah yang mempunyai status "DISAMAKAN" dengan Manusia. Maka para jawara sejati dari beberapa ksatria binatang terpilih untuk memasuki sekolah yang statusnya disamakan itu.

Ada jago renang, menyelam dan mempunyai kemampuan Amfibi, yaitu si-lentur dan lincah yang bernama KODOK. Ada jago terbang, menukik, menyambar, dan bersalto di udara yaitu si perkasa ELANG.

Mendaftar juga ke dalam sekolah ini, si jago lari dan si lincah KANCIL. Kemudian tidak lupa TUPAI si jago memanjat dan loncat di pepohonan ikut mendaftarkan diri...

Suatu hari, guru-guru pilihan dari sekolah ini mengadakan ujian kompetensi untuk beberapa mata pelajaran yang dianggap paling penting dalam peta persaingan global, dan hasil ujian kompetensi ini akan sangat mudah bisa ditebak,yaitu :

Pelajaran Berenang : Kodok dapat nilai 10, yang lain jeblok

Pelajaran Terbang : Elang dapat nilai 10, yang lain payah, nilainya jeblok

Pelajaran Memanjat : Nilai 10 untuk Tupai, dan mengecewakan untuk peserta yang lain...

Pelajaran Lari Kencang, Sprint : Kancil yang lincah tidak bisa ditandingi, Nilai 10 Untuk kancil yang lainya nilai jeblok..

Melihat hasil ujian kompetensi ini, si guru yang pernah belajar di dunia manusia kepingin membikin revolusi pendidikan di negeri para binatang, maka dari hasil lobby-lobby nya dengan para petinggi kerajaan binatang berhasillah si guru itu untuk menelorkan kurikulum standar, supaya status "DISAMAKAN" tidak bikin malu para seleberiti politik binatang.

Maka ditetapkanlah kurikulum standar NILAI KELULUSAN RATA RATA ADALAH angka 6 di setiap mata perlajaran.. ....

Maka mulailah guru binatang itu memaksa KODOK latihan terbang setiap hari...
Memaksa ELANG harus mendapatkan nilai 6 untuk pelajaran berenang dan menyelam...
Mengajari TUPAI setiap hari untuk terbang dan berlari,
dan memaksa KANCIL harus bisa menyelam untuk mendapatkan nilai standar kelulusan...

Hari berlalu... Dan hasil akhir dari pelajaran untuk mendapatkan nilai standar kelulusan itu adalah :

KODOK yang tadinya jago menyelam, sekarang sudah tidak mampu menyelam lagi karena tulang-tulangnya banyak yang patah akibat jatuh waktu pelajaran terbang dan pakai menukik segala..

ELANG yang tadinya piawai untuk urusan terbang dan menukik sekarang tidak bisa beranjak dari tempatnya karena terlalu banyak air yang masuk ke paru-parunya sewaktu mendapat pelajaran berenang.

TUPAI yang lincah itupun sekarang sakit di setiap sendi lutut dan lengannya akibat jatuh dan terpelanting ketika belajar terbang dan lari.

KANCILpun hanya mampu bersimpuh di tempatnya akibat terlalu banyak menelan air sewaktu menerima pelajaran berenang....

Semua binatang pilihan tadi hilang kemampuan sejatinya... .

Dan bencana bagi sekolah di dunia binatang itu, karena pada saat harus menjalani tes kelulusan standar, semua binatang pilihan tadi tidak ada lagi yang mampu melewati ujian dalam semua mata pelajaran yang diberikan... .

Kawan saya Wak Alexander subroto sering bilang, biarkanlah anak-anak kita diajarkan sesuai dengan bakat dan kemampuan sejatinya yang terlahir dan melekat di dirinya secara alami, cari dan asahlah sesuai dengan dirinya, bukan dengan kemauan personal orang yang menguasainya. ....

Entahlah.... Kok sekolah di negeri Indonesia juga ada yang mirip dengan dunia fauna

hmmm...tanya kenapa?


(Sumber: Dari Forum Mahasiswa UPI di Internet, terima kasih akang! Maaf namanya tidak tercantum, Semoga Tulisan akang ini bermanfaat)

Warning!!!!!!!!

Tulisan ini dapat menyebabkan serangan Semangat, Kecerdasan, Hilangnya Kebodohan dan Kemalasan, Boleh dibaca kapanpun dan dimanapun, asal jangan dibaca ketika "Khotib sedang Khutbah"

Boleh di COPAS (Copi & Paste) di jadikan bungkus kacang, kapal-kapalan (Tapi itu DILARANG lho???nb: COPAS boleh lah! ^_^) di sebarkan jadi bahan acuan, tugas, DESBE, referensi, Inspirasi, asal jangan dijadikan bungkus Terasi ya!. ^_~

Asalkan Sumber tulisan dan Penulis dicantumkan (Coba klo Tulisan ini di Print lalu di jadikan bungkus-bungkus yang tidak sesuai kan GASWAT he.,he.,).

Terus Bersemangat dan Berkarya, Membangun Diri! Berprestasi! Mensejahterakan Negeri!

Di Tulis ulang oleh:

Arip Nurahman,

Guru dan Dosen Profesional

(Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia & Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, U.S.A.)

Terima Kasih

Jumat, 01 Februari 2008

10 Tips Mengimplementasikan E-learning


10 Tips Mengimplementasikan E-Learning

Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,

Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.

Untuk menambah kelengkapan informasi tentang e-learning, berikut kutipan pendapat seorang pakar dari Inggris, Jane Knight. Beliau adalah pendiri e-Learning Centre, suatu lembaga konsultasi independen tentang e-learning, sekaligus editor situs

http://www.e-learningcentre.co.uk.

Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan bagi siapa saja yang ingin mengimplementasikan e-learning didalam organisasi. Bacalah petunjuk dibawah ini :

[1] E-learning lebih dari sekedar e-training. Banyak pelatihan di organisasi di masa lalu yang mengambil pola pelatihan dalam bentuk sangat formal yang disebut kursus, Adapun kini, banyak orang sudah mengetahui bahwa sekitar 70% proses pembelajaran berlangsung di lingkungan informal organisasi, semisal tidak dalam ruang kelas atau ketika bekerja melalui kursus online, namun sesungguhnya dalam aktivitas kerja sehari-hari, para pekerja membawa pulang pekerjaan mereka dan mencari informasi, membaca dokumen, berbicara dengan kolega mereka, dan sebagainya. Itulah sebentuk aktivitas pembelajaran informal yang perlu didukung dan diperkuat melalui fasilitas yang online. Oleh karena itu, e-learning tidak hanya e-training, melainkan juga mengenai informasi, komunikasi, kolaborasi, dukungan kinerja dan berbagi pengetahuan.

[2] "Quick n Dirty Works", Kompleks, rumit, interaktif, instruksional, banyak biaya untuk multimedia e-learning, waktu yang lama untuk membangun, dan kemungkinan perangkat komputer yang sudah tidak up-to-date dengan perkembangan terakhir. Dalam banyak kasus, solusi termudah adalah adanya respon yang cepat dari pengelola, termasuk penyediaan kebutuhan pembelajaran

[3] Komunikasi dan kolaborasi adalah kuncinya. Jangan lupa bahwa pembelajaran adalah suatu aktivitas sosial, dan terkadang anda akan lebih Powerfullatau menjadi lebih tenang ketika mengikuti proses pembelajaran yang melibatkan sekian banyak komunitas online dan jaringan, dan dengan memperkuat kolaborasi diantara para pembelajar dimana kita dapat saling bertukar bahan. Yakinkan diri anda bahwa anda memang menyediakan peluang dan kesempatan bagi banyak orang untuk komunikasi, berkolaborasi dan berbagi pengetahuan.

[4] The magic is in the mix, Banyak solusi pembelajaran formal terkadang bekerja ketika mereka dikombinasikan (campuran) dengan hal-hal tradisional, yaitu aktivitas face-to-face, untuk membentuk solusi campuran. Cara ini akan memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih lengkap dan bervariasi bagi siapa saja yang perlu bekerja dalam program pembelajaran sepanjang waktu.

[5] Pembelajaran harus diawali dari kebutuhan individu. Coba anda temukan apa yang diperlukan oleh orang banyak tentang kebutuhan mereka untuk belajar tentang pekerjaan mereka dan temukan pula bagaimana, dimana atau kemana dan kapan mereka menginginkan belajar. Lalu, jika sudah, coba rancang solusi pembelajaran yang dapat membantu mereka. Giatkan para pekerja untuk swa-motivasi (self-directed) dalam pembelajaran dan tumbuhkan rasa tanggung jawabnya dan bantulah mereka dalam memahami dan membangun e-learning.

[6] If you build it, they won't necessarily use it. Perhatikan, jangan mentang-mentang anda sudah menciptakan solusi dalam e-learning, lalu anda memaksakan para pembelajar untuk datang beramai-ramai dan menggunakannya. Anda mungkin akan menemui dan harus menanggulangi beberapa hambatan yang datang dari organisasi dan personal, sebelum para pembelajar membeli dan membawa pulang e-learning. Intinya, mereka perlu melihat dan membuktikan e-learning sebagai sesuatu yang membawa keuntungan bagi mereka dan memantapkan langkah mereka dalam belajar.

[7] E-learning harus disesuaikan dengan kondisi organisasi bersangkutan. Ingatlah, tidak ada formula ajaib dalam merancang e-learning dalam sebuah organisasi; anda akan melihat banyak perbedaan di setiap organisasi. Maka, e-learning harus disesuaikan dengan sasaran-sasaran bisnis, budaya organisasi, keinginan-keinginan para pekerja dan gaya belajar setiap individu. Dengan memperhatikan faktor-faktor itu, anda akan dapat merancang solusi e-learning yang paling cocok bagi organisasi anda.

[8] E-learning = solusi bisnis. Suatu strategi e-learning yang dirancang dengan baik sangatlah diperlukan dalam kaitannya dengan sasaran bisnis, semisal peningkatan produktivitas atau penjualan, atau meningkatkan loyalitas konsumen. Banyak organisasi masih begitu concern dengan melatih sekian banyak orang, dan yang menjadi pertanyaan, apakah setiap pekerja yang mengikuti pelatihan itu lulus. Pada akhir pelatihan, tidaklah penting seberapa banyak yang telah dipelajari para pekerja, yang penting justru adalah bagaimana mereka mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari, dan bagaimana kinerja setiap individu dan pada akhirnya, peningkatan kinerja perusahaan. E-learning, sebagaimana pembelajaran itu sendiri, bermakna bagaimana akhir dari sesuatu, tetapi bukan akhir itu sendiri.

[9] Koordinasikan segala upaya e-learning anda. Bagian Human Resources, Teknologi Informasi dan unit-unit bisnis perlu bekerjasama untuk menciptakan suatu lingkungan yang efektif bagi aplikasi e-learning. Banyak organisasi telah menemukan bahwa setiap perbedaan dalam bisnis telah menjadi bahan kompetisi bagi vendor yang berbeda. Untuk itulah diperlukan beberapa pusat pengendali untuk memilih sistem e-learning yang tepat sehingga keputusan yang diambil dapat berguna bagi setiap bagian di dalam organisasi.

[10] Just Do It! Akhirnya, anda harus tahu bahwa banyak organisasi yang menghabiskan waktu hanya untuk merencanakan penggunaan e-learning. Mereka ingin tahu apakah segalanya akan bekerja jika mereka menggunakannya. Nah, nasihat terbaik yang bisa saya berikan adalah :

START SMALL, THINK BIG and GO !!!

Sumber : e-learning

Arip Nurahman, Guru dan Dosen Profesional